• Waspadai Mata Kabur Mendadak!

    Waspadai Mata Kabur Mendadak!

    Tahukah Anda, mata kabur secara mendadak merupakan gejala penyakit retina atau saraf mata. Dokter Spesialis Medical Retina SMEC Medan, Dr. Heri Purwoko mengatakan, retina merupakan lapisan saraf yang melapisi dinding mata bagian dalam yang penting untuk penglihatan.

    Kelainan retina dengan keluhan kabur mendadak di antaranya adalah ablasio retina, penyumbatan pembuluh darah retina, retinopati diabetika, kelainan/gangguan di retina dan macula, serta infeksi pada retina.Gejala awal kelainan ini adalah melihat bayangan berupa titik-titik hitam didahului oleh kilatan cahaya. Retina melapisi dinding mata bagian dalam, berfungsi seperti film pada kamera foto, cahaya yang melalui lensa akan difokuskan ke retina. Sel-sel retina yang peka terhadap cahaya inilah yang menangkap “gambar” dan menyalurkannya ke otak melalui saraf optik.

    Ablasio retina
    Ablasio retina lebih besar kemungkinannya terjadi pada orang yang menderita rabun jauh (myopia) dan pada orang orang yang anggota keluarganya ada yang pernah mengalami ablasio retina.

    Ablasio retina dapat pula disebabkan oleh penyakit mata lain, seperti tumor, peradangan hebat, akibat trauma atau sebagai komplikasi dari diabetes. Begitu Dr Heri menjabarkan tentang penyebab mata kabur mendadak.
    Penyumbatan pembuluh darah retina (stroke pada mata).

    Sama dengan stroke yang menyerang otak, serangan stroke yang satu ini juga dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat. Kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol, konsumsi makanan berkalori tinggi yang tidak diimbangi dengan olahraga teratur, dan kurangnya istirahat adalah beberapa di antaranya. “Kalau stroke pada otak bisa mengakibatkan seseorang menjadi lumpuh, maka stroke mata bisa mengakibatkan kebutaan permanen,”ucapnya.

    Risiko stroke mata terbilang tinggi bagi mereka yang menderita tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan mengidap penyakit darah seperti anemia dan leukemia,” lanjut dokter spesialis retana yang kerap di sapa dr. Heri ini.

    Retinopati Diabetika (kelainan retina yang disebabkan diabetes militus)
    Sekitar 60% pasien dengan diabetes selama 15 tahun atau lebih mengalami kerusakan pembuluh darah pada mata mereka. “Retinopati diabetika adalah penyakit yang menyerang pembuluh darah mikro di retina yang sifatnya kronik dan progresif pada penderita diabetes,” ujarnya.

    Selain itu, Retinopati diabetika adalah komplikasi diabetes pada retina yang dapat mengancam penglihatan. Manifestasi klinis awal yaitu adanya mikroaneurisma dan pendarahan. Perubahan pembuluh darah menyebabkan gambaran peningkatan jumlah pendarahan retina, abnormalitas vena.

    Pada stadium lanjut dapat menimbulkan munculnya pembuluh darah baru. Penurunan tajam penglihatan terjadi akibat edema (pembengkakan) makula.

    Faktor resiko terjadinya retinopati diabetika adalah faktor genetik, lama menderita diabetes, kadar gula darah, tekanan darah, kadar lemak darah dan merokok. Beberapa pasien penderita penyakit ini beresiko mengalami kebutaan.
    Infeksi pada retina.

    Pada mulanya infeksi ini mengenai retina bagian perifer (pinggir) yang kemudian apabila hal ini tidak cepat ditamgani infeksinya dapat meluas dengan cepat,bahkan merusak seluruh jaringan retina dan mempunyai resiko kebutaan dalam waktu yang relatif sangat singkat.

    Kerusakan retina yang telah terjadi biasanya bersifat permanen, dengan kata lain meskipun infeksi sudah teratasi, namun jaringan yang telah rusak tetap tidak berfungsi. Oleh karena itu diagnosa serta pengobatan harus sedini mungkin sebelum seluruh jaringan retina serta saraf mata terinfeksi.

    Penyebab infeksi ini adalah bakteri, virus, protozoa (toxoplasma). Faktor resiko yang dapat terjadi adalah daya tahan tubuh menurun karena HIV/ AIDS, konsumsi obat-obatan imunosupresan (paska transplamtasi organ tubuh).

    Diagnosa dini umumnya ditegakkan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter subspesialis retina dengan pemeriksaan tajam penglihatan melalui pemeriksaan auto refractive dan subjective refractive, pemeriksaan tekanan bola mata, pemeriksaan dengan menggunakan slitlamp, pemeriksaan funduscopy indirect dalam kondisi pupil lebar, pemeriksaan foto fundus, dan pemeriksaan OCT Makula.

    Jika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan FFA (Fundus Fluorescein Angiography). Penanganan lanjutan yang dapat dilakukan meliputi laser retina, injeksi intra vitreal dan vitrectomy. Tujuan dari tindakan tersebut adalah Mencegah bertambah buruknya kelainan mata dan bukan untuk membuat penglihatan lebih terang.

    Bagi para pembaca yang mengalami penglihatan hilang/buram mendadak segera periksakanlah ke dokter spesialis mata.

    Karena apabila terlambat dalam penanganannya akan memperluas rusaknya retina,”ungkap dokter yang kini berpraktik di rumah sakit Sumatera Eye Center Medan (SMEC) Jalan Iskandar Muda, Medan ini.

    Leave a reply →